Senin, 18 Februari 2019

Mapel Tik

Sempat Dihapus, Mata Pelajaran TIK Kini Bernama Informatika

1 September 2018, 23:00:57 WIB
JawaPos.com – Mata pelajaran (mapel) teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dihapus dari daftar pelajaran siswa seiring diberlakukannya Kurikulum 2013 beberapa waktu lalu. Namun tahun depan, pemerintah akan menghidupkan kembali mata pelajaran ini, dengan nama baru yaitu Informatika.
Rencananya, mata pelajaran ini akan diterapkan untuk jenjang SMP dan SMA sederajat. Bakal hadirnya kembali mapel Informatika menjadi tema diskusi dalam seminar nasional guru TIK se-Indonesia di gedung Guru PGRI Sabtu (1/9).
Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kemendikbud Awaluddin Tjalla menjelaskan, mapel Informatika untuk jenjang SMP akan diberikan selama dua jam pelajaran per pekan. Sedangkan untuk SMA, mapel ini masuk pelajaran pilihan dengan porsi hingga tiga jam pelajaran per pekan.
Suasana seminar nasional guru TIK se-Indonesia di Gedung Guru PGRI Jakarta Pusat (1/9). (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)
Awaluddin mengatakan, ada sejumlah tantangan dalam penerapan mapel Informatika ini. Di antaranya jumlah guru yang hanya sekitar 40.000 orang.
Dari jumlah itu, guru Informatika yang bersertifikasi serta linier jalur kuliahnya hanya sekitar 20.000 orang atau separuhnya. "Di satu sisi belum ada penambahan guru (CPNS, Red) baru," tuturnya di Jakarta kemarin (1/9).
Dia menjelaskan saat ini Kemendikbud masih terus menyiapkan dokumen implementasinya. Selain itu kompetensi dasar mapel Informatika juga terus dikaji, divalidasi, dan diujicoba.
Kemendikbud juga menyamakan persepsi antara akademisi dengan guru. Awaluddin menegaskan mapel Informatika harus disampaikan dengan tepat dan baik.
Hanya saja, belum diketahui apakah mapel ini akan diterapkan secara menyeluruh atau bertahap. Pengamat pendidikan Indra Charismiadji menyambut baik rencana pemerintah menghadirkan kembali mapel TIK yang berubah jadi Informatika.
Dia berharap tidak sekedar ganti nama. Tetapi, materinya juga ditingkatkan ketimbang saat masih bernama TIK dahulu.
"Mapel Informatika bukan siswa belajar cara pakai komputer. Sebab siswa sekarang sudah penduduk dunia digital," tuturnya.
Indra menjelaskan mapel Informatika harus bisa membantu siswa memecahkan masalah, berpikir kritis, berinovasi, serta membangun jiwa kolaborasi memanfaatkan teknologi.
Terkait dengan infrastruktur komputer di sekolah yang masih belum merata, Indra memakluminya. Dilihat dari pelaksanaan ujian nasional yang berbasis komputer saja, lokasinya juga masih terbatas.
Sehingga dia merasa wajar jika salah satu pilihan yang dikaji Kemendikbud adalah menjalankan mapel Informatika ini secara bertahap.
Editor : Estu Suryowati
Reporter : (wan/JPC)

Revolusi 4.0

dibaca normal 2 menit

Sejarah Revolusi Industri dari 1.0 hingga 4.0

Sejarah Revolusi Industri dari 1.0 hingga 4.0
Perbedaan Revolusi Industri 1.0 yang dimulai abad ke-18 hingga Industri 4.0.
tirto.id - Industri 4.0 menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Debat Kedua Capres 2019 yang digelar di Hotel Sultan, Minggu (17/2/2019).

Dalam debat itu, capres nomor urut 02, Prabowo Subianto menilai Revolusi Industri 4.0 belum berpihak kepada petani. Harga-harga pangan, kata dia, juga belum terjangkau pada era Revolusi Industri 4.0.

"Kita sama-sama memahami dahsyatnya perkembangan Industri 4.0 yang akan datang. [Era] robotik ini akan berdampak. [Tapi] belum berpihak kepada petani," ungkap dia.


Jokowi menilai, pernyataan Probowo tersebut kurang optimis. Jokowi menilai, strategi pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang telah dirancang dengan dukungan infrastruktur membuatnya optimis menyongsong Revolusi Industri 4.0.

"Produk petani masuk ke marketplace, dari produsen [langsung] ke konsumen, sehingga harganya juga diangkat. Juga kredit fintech, peer to peer, sudah bisa langsung dilakukan ke petani. Ini membuka kesempatan petani untuk langsung pruduksi. Jadi tidak lewat agen-agen lagi," kata dia.

Revolusi Industri 1.0-4.0

Dikutip dari situs web Menperin, revolusi industri pertama atau 1.0 dimulai pada abad ke-18. Hal itu ditandai dengan penemuan mesin uap untuk upaya peningkatkan produktivitas yang bernilai tinggi. 

Misalnya di Inggris, saat itu, perusahaan tenun menggunakan mesin uap untuk menghasilkan produk tekstil.

dibaca normal 2 menit

Sejarah Revolusi Industri dari 1.0 hingga 4.0

Sejarah Revolusi Industri dari 1.0 hingga 4.0
Perbedaan Revolusi Industri 1.0 yang dimulai abad ke-18 hingga Industri 4.0.
tirto.id - Industri 4.0 menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Debat Kedua Capres 2019 yang digelar di Hotel Sultan, Minggu (17/2/2019).

Dalam debat itu, capres nomor urut 02, Prabowo Subianto menilai Revolusi Industri 4.0 belum berpihak kepada petani. Harga-harga pangan, kata dia, juga belum terjangkau pada era Revolusi Industri 4.0.

"Kita sama-sama memahami dahsyatnya perkembangan Industri 4.0 yang akan datang. [Era] robotik ini akan berdampak. [Tapi] belum berpihak kepada petani," ungkap dia.


Jokowi menilai, pernyataan Probowo tersebut kurang optimis. Jokowi menilai, strategi pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang telah dirancang dengan dukungan infrastruktur membuatnya optimis menyongsong Revolusi Industri 4.0.

"Produk petani masuk ke marketplace, dari produsen [langsung] ke konsumen, sehingga harganya juga diangkat. Juga kredit fintech, peer to peer, sudah bisa langsung dilakukan ke petani. Ini membuka kesempatan petani untuk langsung pruduksi. Jadi tidak lewat agen-agen lagi," kata dia.

Revolusi Industri 1.0-4.0

Dikutip dari situs web Menperin, revolusi industri pertama atau 1.0 dimulai pada abad ke-18. Hal itu ditandai dengan penemuan mesin uap untuk upaya peningkatkan produktivitas yang bernilai tinggi. 

Misalnya di Inggris, saat itu, perusahaan tenun menggunakan mesin uap untuk menghasilkan produk tekstil.


Pada revolusi industri kedua atau 2.0 dimulai pada tahun 1900-an. Revolusi industri 2.0 ditandai dengan ditemukannya tenaga listrik. 

Menurut Menperin Airlangga Hartarto, pada fase ekonomi ini, beberapa industri di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signfikan, seperti sektor agro dan pertambangan. Jadi, revolusi yang kedua ini terkait dengan teknologi di lini produksi.

Kemudian, di era revolusi industri ketiga atau 3.0, saat otomatisasi dilakukan pada tahun 1970 atau 1990-an hingga saat ini karena sebagian negara masih menerapkan industri ini.

Pada revolusi industri keempat atau 4.0, Menperin menyampaikan, efisiensi mesin dan manusia sudah mulai terkonektivitas dengan internet of things. 

Dikutip dari situs web UI, Industri 4.0 adalah nama yang diberikan untuk tren otomatisasi dan pertukaran data saat ini. 

Hal ini termasuk sistem cyber-fisik, Internet, komputasi awan dan komputasi kognitif. Industri 4.0 biasanya disebut sebagai revolusi industri keempat. 

Ragam AI diantaranya Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IOT), Unmanned Vehicles (UAV), Mobile Technology (5G), Shared Platform, Block Chain, Robotics dan Bio-Technology. 

Industri 4.0 bakal menghasilkan banyak kreativitas dan kebaruan, yaitu kekayaan intelektual yang perlu dilindungi dan ditegakkan.

Airlangga juga menjelaskan, perbedaan penerapan Industri 3.0 dengan Industri 4.0 adalah dari faktor penggeraknya. Industri 3.0 digerakkan oleh profit, sedangkan 4.0 lebih didorong oleh harga dan biaya. 
“Bedanya Industri 3.0 dengan 4.0 adalah value chain-nya. Banyak produk-produk yang dari cost itu tentunya berujung pada value added dan supply chain," terangnya.

Roadmap Industri 4.0 Indonesia

Presiden Joko Widodo meresmikan Making Indonesia 4.0 sebagai peta jalan (roadmap) Industri 4.0 untuk meningkatkan nilai tambah industri manufaktur dalam negeri sehingga bisa bersaing secara global. 

Untuk penerapan awalnya, roadmap ini bakal berfokus pada lima sektor manufaktur, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik. 

Pemilihan kelima sektor itu mencakup ukuran PDB (Produk Domestik Bruto), perdagangan, potensi dampaknya terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar.

“Tentu saja ini direncanakan dengan baik, ada roadmap yang jelas, tahapan-tahapan apa yang harus kita siapkan. Arahnya sudah jelas seperti itu. Lebih mudah menggarapnya,” kata Jokowi di Jakarta Convention Center, Jakarta pada Rabu (4/4/2018).

Menurut Jokowi, pemilihan kelima sektor tersebut dapat membawa keuntungan bagi Indonesia. Pasalnya, konsentrasi industri bisa lebih terkontrol sehingga tidak semua sektor jadi dikerjakan.

Perkembangan Teknologi


Perkembangan Teknologi Masa Kini Buat Dunia Makin Digital dan Mobile



Perkembangan teknologi masa kinisemakin membawa kita ke arah digital dan mobile. Bila dibandingkan dulu kita biasa melihat iklan melalui televisi, koran, majalah, dan radio. Kini, internet dan aneka device atau gadget bisa menggantikan media tersebut. Beriklan di ponsel pun kini menjadi suatu inovasi yang berkembang bagai jamur bagi industri periklanan.

Kenali Perubahan Perilaku Pasar Dapat Menjadi Kunci Sukses Bisnis Anda

Menurut hasil penelitian Google pada kuartal IV 2013-2014, banyak orang lebih cenderung memilih perangkat mobile sebagai pilihan untuk menghabiskan waktu di media digital. Sebanyak 60% pencarian di internet dilakukan melalui perangkat ponsel dibanding komputer.
Perkembangan teknologi masa kini telah merubah gaya hidup masyarakat dalam membaca berita, mencari hiburan, sampai membeli kebutuhan sehari-hari yang lebih praktis dilakukan menggunakan ponsel atau perangkat mobile lain seperti tablet.

Koneksi Jaringan 4G Semakin Meningkatkan Digitalisasi

Kini Anda sudah bisa menikmati koneksi jaringan 4G pada beberapa provider di Indonesia. Begitu juga dengan produsen smartphone yang tak kalah berpacu mengeluarkan produk yang mendukung akses jaringan ini. Tentunya dengan hadirnya jaringan 4G membuat informasi lebih mudah didapatkan.
Pengguna internet di Indonesia menunjukkan hasil yang signifikan sejak tahun 2013 dan kini telah bertambah dua sampai tiga kali lipat karena semakin banyaknya informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Internet dan perangkat teknologi pendukung membuat sebagian besar orang-orang di dunia, khususnya di Indonesia, bekerja lebih praktis, cepat tanpa mengenal jarak.

Perkembangan Teknologi Masa Kini Bantu Bekerja Lebih Praktis

Semakin pesatnya perkembangan internet juga berimbas pada pertumbuhan bisnis baik bisnis kecil menengah maupun perusahaan besar. Memasarkan barang dan jasa semakin terakomodasi dengan mudah secara online, begitu pun bekerja juga bisa lebih praktis. Bagaimana bisa?
Jaringan internet menjadi jembatan pada teknologi cloud yang memungkinkan Anda bekerja dan menyimpan data secara online sehingga data dan file dapat diakses kapan saja, dimana saja yang Anda butuhkan. Terlebih lagi, dengan aplikasi berbasis cloud Anda dapat menggunakan perangkat apapun yang disukai.
Anda dapat bekerja dari kantor maupun dirumah atau bahkan ketika sedang melakukan perjalanan. Cloud Computing atau komputasi awan juga memungkinkan Anda melakukan kolaborasi dengan teman kerja, partner, dan klien/konsumen. Mengerjakan satu dokumen bersama-sama secara real-time online, atau juga bisa terlibat dalam konferensi video call bersama dan saling berbagi screen untuk memudahkan komunikasi yang cepat tanpa mengenal jarak.
Anda tak perlu menginstal satu persatu aplikasi cloud tersebut karena semuanya kini telah tersedia lengkap pada satu perangkat, yaitu Google Apps for Work. Berisikan semua layanan berkelas bisnis mulai dari email professional, online storage, alat produktifitas, video konferensi, dan kalender yang terintegrasi sehingga Anda bisa lebih terorganisir. Anda dapat mencoba Google Apps for Work secara gratis selama 30 hari pada perusahaan partner resmi Google Apps reseller Indonesia, EIKON Technology.